Wednesday, September 22, 2004

finally ...

he's out of my life
and i don't know whether to laugh or cry
i don't know whether to live or die
and it cuts like a knife ... he's out of my life
it's out of my hands, to think for five years he was here
and i took him for granted, i was so cavalier
now the way that it stands .. he's out of my hands
So I've learned that love's not possession
and i've learned that love won't wait
now i've learned that love needs expression, but i learned too late
damned indecision and cursed pride kept my love for her locked deep inside
ironis ... aku nggak menyangka semua berkembang seperti ini. aku nggak nyangka pengaruhna sebegitu dalam mengiris dan mencabik setiap inci hatiku. bahkan lebih dari itu ... kurasakan sebuah kehampaan, kekosongan dalam diriku sendiri. kekosongan yang justru membuatku merasa digantungi 1000 ton karung beras ... Berat, hampa, tersayat, tercabik. seperti layakna ketika ada beban berat terangkat dari pundak kita, tetapi bukan perasaan ringan dan enteng yang terasa, malah menyisakan satu cekungan, torehan luka yang begitu besar menganga.
seperti layakna pelari marathon yang dipaksa berlari bermil-mil jauhna, hingga sekujur tubuh tak lagi sadar akan sekitar, aku hanya tau bahwa aku harus terus berlari tanpa tau kapan harus berhenti, dan yang lebih menyedihkan lagi ... tanpa tau untuk apa semua ini sebenerna.
seperti layakna seorang demonstran yang memperjuangkan hak yang diyakini-na ... ketika harus baku hantam dengan 'aparat', itulah aku... bukan kemenangan yang kudapat. aku tertinggal di sini dengan semua memar dan luka yang menganga ... dan sebuah kekalahan batin
kekalahan dari diriku sendiri.
well, i know me, i know myself ... yang terkadang bisa jadi sangat selfish dengan mengasihani diriku sendiri. yah, so what?? it's my heart, bleeding. it's me down on my knees.. i know that.
seperti inikah rasa sakit itu? sebuah penyesalan ... sebuah ketelodaran. kenapa aku baru menyadari pada saat-saat terakhir??? i love him, i always love him. seperti nyala lilin yang terus menyala di kegelapan, walau kecil ... tapi terus menyala...
Dan kini?? ketika akhirna aku menyadari bahwa dia ada, bahwa aku membutuhkan nyala lilin itu untuk menerangi jalanku ... dia mati. mati begitu saja, menyisakan sebuah kegalapan yang begitu pekat.
u know what?? dia pergi, memang ... aku tahu itu. 'n somehow ... aku juga tau sebelumna kalo dia harus pergi, someday, that i have no right to force him not to leave ...
tapi yang baru aja kusadari adalah ... bahwa dia pergi, tidak hanya dengan kata maaf yang terucap dari bibir kami berdua, tidak hanya dengan sebuah pelukan perpisahan ... tapi dia pergi dengan membawa seluruh kekuatanku, hampir seluruh pondasi kehidupanku.
menyakitkan, ketika aku baru menyadari bahwa dialah kekuatanku selama ini, bahwa tawanya adalah bahagiaku, senyumnya bagaikan semprotan bayfresh aroma melati yang senantiasa menyegarkan dan mengharumi relung jiwaku, sentuhannya, pelukannya, kecupannya ... semua adalah kekuatanku.
and guess what?? i never realized it, sodara-sodara!!!!! sampai pada hari di mana semua terenggut dariku. aku tak pernah menyadarinya, sampai hari ini, ketika aku hancur lantak terduduk di lantai ... merasakan kabut kehampaan mulai meluas di jiwaku, merasakan luka yang semakin dalam mencabik, menyayat, menggerogoti hatiku, merasakan pukulan palu yang berdentum-dentum di kepalaku, merasakan tulang-tulang tubuhku perlahan berubah lembek seperti tulang ayam yang kelamaan direbus.
aku jatuh, aku lemah, aku rapuh ...
segalanya gelap. bagaimana mungkin? aku tak bisa lagi menatap ke depan.. karna aku tahu dia takkan ada di sana, dengan tawanya, senyumnya,
i can still smell his fragrance, felt so strong
DAMNED!!! kenapa dia begitu dalam merasukiku? dan kenapa aku baru menyadarinya???